Ares bukan gambaran perang yang otomatis memuliakan keberanian. Dalam mitologi Yunani, ia berkaitan dengan keberanian dan alat-alat perang, tetapi juga dengan pembunuhan, penjarahan, serta kekejaman dan horor perang [1]. Di ARESTOGEL, ketegangan itu menjadi jalan untuk membaca sosoknya: keberanian hadir berdekatan dengan amarah dan kehancuran, bukan terpisah darinya.
Keberanian bukan jaminan kemenangan
Ares dikaitkan dengan serangan dan pertahanan kota, juga dengan keberanian [1]. Namun, gambaran keberanian dalam kisahnya tidak selalu berarti kemenangan atau kepahlawanan yang bersih dari akibat. Sebuah prasasti makam dari Attika pada akhir abad keenam menggambarkan Kroisos dihancurkan oleh Ares yang mengamuk saat bertempur di barisan terdepan [1]. Dalam pembacaan ini, keberanian tampak sebagai keberanian menghadapi bahaya, sementara kehancuran tetap menjadi bagian dari perang.
Ares dan Athena, dua wajah perang
Ares melambangkan kebrutalan, kekejaman, dan horor perang. Sebaliknya, Athena dikaitkan dengan kebijaksanaan dan strategi perang, serta perlindungan bagi manusia dan tempat tinggal mereka [1]. Keduanya digambarkan bermusuhan [1]. Perbedaan itu memberi konflik lebih dari satu sisi: ada daya rusak yang dilambangkan Ares, dan ada strategi serta perlindungan yang diasosiasikan dengan Athena. Jadi, keberanian dalam kisah perang tidak harus dibaca sebagai amarah semata.
Amarah yang tak setia pada satu kubu
Dalam gambaran yang tersedia, Eris memicu peperangan dan Zeus mengarahkan jalannya, sementara Ares mencintai perang demi kesenangannya sendiri. Ia menikmati hiruk-pikuk dan teriakan perang, pembantaian, serta penghancuran kota; ia pun kadang membantu satu pihak lalu berpindah ke pihak lain sesuai kehendaknya [1]. Sebagai pembacaan, amarah Ares lebih dekat pada dorongan untuk terus berada dalam kekacauan daripada tekad membela satu tujuan tertentu.
Sosok yang berbeda menurut kisahnya
Ares tidak selalu tampil dengan nada yang sama. Dalam Iliad, ia dikelilingi berbagai perwujudan kengerian perang, sedangkan dalam Odyssey karakternya digambarkan sedikit lebih lunak [1]. Ia juga bukan sosok yang selalu menang: Athena beberapa kali mengalahkannya, Herakles dan Diomedes pernah melukainya, dan ia juga dikalahkan oleh Aloadai [1]. Kisah-kisah itu membuat Ares lebih rumit daripada lambang kekuatan yang tak terkalahkan.
Melalui Ares, perang tampil sebagai ruang tempat keberanian dan amarah berdekatan, tetapi tidak menghasilkan makna yang sama. Keberanian dapat terlihat dalam keberanian menghadapi medan perang; amarah Ares, sebaliknya, mengarah pada konflik yang dinikmati karena kekacauannya sendiri. Perbedaan itulah yang membuat sosoknya menarik dibaca sebagai gambaran tentang sisi perang yang merusak.
Sumber
- [1] Wikipedia bahasa Indonesia — Ares. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=29918169&title=Ares (diakses 2026-10-02).